Pesan Azyumardi Azra dan Kualitas Wartawan Indonesia

Selasa, 20 September 2022 08:53 WIB

Share
Pesan Azyumardi Azra dan Kualitas Wartawan Indonesia

Oleh Yusrizal Karana

TEPAT seminggu setelah Ketua Dewan Pers Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, M.A., M.Phil., CBE, berkunjung ke Bukittinggi, ia meninggalkan dunia yang fana ini dengan tenang setelah menderita acute inferior myocardial infarction atau serangan jantung. 

Ia datang ke Bukittinggi dalam rangka menghadiri sekaligus membuka uji kompetensi wartawan (UKW) yang diikuti 72 peserta, dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Jelang menginjakkan kaki di jenjang Hotel Novotel, ia sempat menikmati keagungan Jam Gadang yang hanya berjarak beberapa meter dari hotel, tempat ia nginap, yang bersebelahan dengan Istana Bung Hatta.

Tak pasti, apakah ia kagum dengan keunikan Jam Gadang dengan angka IIII Romawi, atau geli mendengar bahasa rang Bukittinggi yang banyak no! 

Ia datang mengenakan kaos wangky atau polo shirt coklat dengan topi flat cap ala anak muda benua biru, lengkap dengan masker abu-abu. Tongkat besi penopang tubuhnya yang mulai goyah dimakan usia, selalu berayun mengikuti setiap langkahnya yang gontai. 

Sebagai shohibul bait yang baik, PWI Bukittinggi telah menjamu para tamu, meski tanpa dibekali uang satu Rupiah pun dari penyelenggara UKW. Alhasil, Ketua PWI Anasrul pontang-panting mencari perlengkapan alat tulis agar UKW berjalan sukses. 

Anak Nagari kelahiran Lubuk Alung, Padang Pariaman itu, sejatinya adalah seorang wartawan. Prof Azra, pernah mengecap pahit getirnya menjadi jurnalis di majalah mingguan ternama besutan Buya Hamka 'Panji Masyarakat' pada 1979 hingga 1985.

Ia bahkan mendirikan dan menjadi pemimpin redaksi 'Studia Islamika', sebuah jurnal Indonesia untuk studi Islam pada 1993.

Tak ada seorang pun yang menyangsikan keintelektualitasnya, sehingga ia memeroleh gelar Commander of the Order of British Empire (CBE). Ini merupakan sebuah gelar kehormatan dari Kerajaan Inggris dan menjadi 'Sir' pertama dari Indonesia pada 2010, sekaligus dianggap telah diakui sebagai anggota keluarga bangsawan Inggris.

Halaman
Reporter: Yusrizal Karana
Editor: Admin Local
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar